Jurnal Ilmiah Kalijaga

Jurnal Online Volume 2 Juli 2013

ISSN : 2302-6758

Pengantar

Aceh Darussalam, Samudera Pasai, Demak, Cirebon, Makassar, Banten, Ternate, Tidore, dan sebagainya adalah kota-kota Maritim di Indonesia. Hingga kini di kota-kota itu masih dapat kita jumpai tinggalan materialnya (arkeologi) antara lain masjid Agung, komplek makam keluarga kesultanan, reruntuhan bangunan benteng. Pada umumnya, kota-kota itu berfungsi sebagai pusat perdagangan dan sentra-sentra kekuatan politik. Kondisi ini didukung antara lain oleh adanya jalinan secara estafet berupa perhubungan pelayaran, perekonomian, dan politik sekaligus juga memperkembangkan citra sebagai Kesultanan-Kesultanan Islam. Perwujudan kota-kota tersebut mengawali tulisan Budi Sulistiono dalam Jurnal Kalijaga, Volume II, Juli 2013.

Keberadaan Borneo sudah banyak ditulis, baik oleh orang Melayu juga oleh orang Asing misalnya penulis asal Polandia, Joseph Conrad tahun 1899. Karya tulis ini diantar oleh Suhana dan Datu Sanib menulis tentang membangun identitas dan karakter Masyarakat Melayu Borneo yang berjudul “Borneo in the Eyes of Joseph Conrad”. Keberadaan Borneo dan kota-kota Maritim di atas pernah berjaya sebagai pusat-pusat Kesultanan Islam. Contoh “Kesultanan Cirebon …”, menurut tulisan Budi Prasidi Jamil merupakan Kesultanan Islam pertama di Jawa Barat. Kawasan itu secara geografis, terletak di pesisir utara Jawa. Lokasinya yang strategis serta memiliki sejumlah muara sungai menjadikan kawasan ini memiliki peranan penting bagi pertumbuhan Cirebon menjadi kota pelabuhan antara lain sebagai tempat untuk; menjalankan kegiatan pelayaran; perdagangan yang bersifat regional dan internasional. Sampai saat ini kota-kota yang dikenal sebagai kota maritim itu masih dapat dijumpai berbagai peninggalan berupa peninggalan material (arkeologi) antara lain: masjid Agung, komplek makam keluarga kesultanan, reruntuhan bangunan benteng.

Kesultanan Islam, selain berada di kawasan kota, masih ditemukan peninggalan kesultanan Islam yang berada di wilayah pedalaman atau agraris. Misalnya Kesultanan Mataram, Kotagede, Yogyakarta. Lacak keberadaannya diungkap oleh Sugeng Riyanto, dalam tulisannya yang berjudul “Cepuri di Kotagede : Bekas Inti Keraton Mataram yang Semakin Terlupakan”. Menurutnya, Cepuri adalah tempat raja berkediaman dan memerintah Mataram. Cepuri merupakan inti keraton yang dibatasi dengan tembok keliling tebal dan kokoh. Tembok keliling ini berbentuk empat persegi panjang tetapi tidak simetris. Saat ini di tengah-tengah Cepuri terdapat tinggalan masa lampau yang ditempatkan di dalam sebuah bangunan cungkup. Di dalam bangunan ini terdapat: sebuah batu gilang yang berfungsi sebagai “singgasana” sultan atau raja, tiga buah batu gatheng sebagai alat permainan putera raja atau sultan, dan sebuah tempayan yang berfungsi untuk wudhu para penasehat sultan atau raja. Penyebutan kata “wudhu” adalah lekat dengan pengamalan syari‟at Islam.

Sementara itu, peran aktif tokoh-tokoh dalam jejak pengamalan syari‟at Islam Nusantara berlangsung dari masa ke masa. Salah seorang tokoh yang dimaksud adalah Syekh Muhammad Azhari Al-Falimbani (1811-1874). Menurut hasil pengamatan Abd. Azim Amin dalam tulisannya “Pemikiran aqidah ahlussunnah wal jama‟ah Syekh Muhammad Azhari AlFalimbani”, mengarang kitab Aqidah Ahlussunnah wal Jama‟ah (1842) menurut pemikiran al-Asy‟ary.

Jejak keislaman Nusantara dalam rangka pengamalan syari‟at Islam juga diisi aktivitas tarekat. Tarekat yang tumbuh dan berkembang itu di antaranya, adalah Tarekat Naqsyabandiyah. Penelusuran jejak Tarekat Naqsyabandiyah di wilayah Minangkabau ditulis oleh Syofyan Hadi dengan tema “Syaikh Ismā‟īl dan Tarekat Naqshabandiyah di Minangkabau Perspektif Naskah al-Manhal”. Naskah al-Manhal, dengan nama yang lebih lengkap yakni, al-Manhal al-„adhb li-dhikr al-qalb, merupakan salah satu naskah yang sangat penting. Naskah itu di samping berisi ajaran-ajaran pokok tarekat Naqshabandiyah, juga mengandung banyak informasi yang berharga, baik tentang Shaykh Ismā„īl al-Khālidī al-Minangkabawī sebagai penyebar pertama ajaran tarekat Naqshabandiyah Khalidiyah di Minangkabau maupun tentang ajaran dan dinamika tarekat Naqshabandiyah al-Khālidīyiah pada fase awal perkembangannya yang selama ini masih dianggap kabur dan samar. Menurut catatan penulis, Naskah al-Manhal ini ditulis menggunakan kertas Eropa dengan cap kertas (water mark) bergambar singa.

Keberadaan naskah-naskah tersebut mengisyaratkan adanya suasana tumbuh dan berkembang. Naskah-naskah Nusantara itu penting untuk dijadikan objek pengamatan, sebab sekarang adalah saat yang tepat, dan penting untuk melacak naskah tersebut yang cara melacak naskah itu mulai dari naskah yang terdapat di desa, kota, pulau dan kepulauan Nusantara. Apa pun keberadaan dan keadaannya baik sebelum dan/ atau semasa Kebangkitan Kesultanan-Kesultanan Islam Nusantara, secara konkrit kehadiran dan keberadaan naskah-naskah Nusantara didukung oleh faktor "rapid commercialization", pada gilirannya membantu menciptakan citra bahwa Islam itu kuat (powerful), baik secara spiritual, ekonomi, politik, maupun militer.

Sukses-sukses besar masa kejayaan Kesultanan Islam Nusantara tidak berarti telah menggusur apalagi penghancuran terhadap tinggalan arkeologis hingga adat dan tradisi masyarakatnya. Justru sebaliknya, pelestarian keberadaannya masih dipertahankan. Kampung Adat Urug yang masuk dalam wilayah pemerintahan Desa Kiarapandak Kecamatan Sukajaya Kabupaten Bogor, misalnya hingga kini masih tetap eksis. Mereka tetap setia kepada peran aktif para elite setempat yang konon secara aktif mengajarkan rangkaian isi Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian. Naskah ini disebut juga dengan nama Talatah Sang Sadu (amanat sang Budiman) berisi ajaran moral, etika dan keagamaan, bagaimana cara bergaul dengan sesama, bersikap kepada Raja, mencapai kesejahteraan hidup dan lain sebagainya. Menurut hasil penelitian yang ditulis oleh Asep Dewantara, dengan tema “Peran Elit Masyarakat:Studi Kebertahanan Adat Istiadat Di Kampung Adat Urug Bogor”, Naskah Talatah Sang Sadu, selesai ditulis pada tahun 1440 saka atau 1518 M. Jadi, naskah Sanghyang Siksakandang Karesian ini lahir pada masa kejayaan Kerajaan Sunda Pakuan Pajajaran, Bogor (1482-1521 M)..(Budi Sulistiono)